Langsung ke konten

NAGA77 🐉 Mengapa sosok naga kadang ditakuti, kadang dihormati? Perbedaan wujud dan perannya dalam sejumlah mitologi membantu membaca makna di balik kisah-kisahnya

Sosok naga tidak punya satu watak tetap. Dalam sejumlah kisah Barat, ia tampil sebagai monster yang mengancam manusia dan harus dikalahkan; dalam tradisi Tiongkok, naga digambarkan bijaksana dan agung. Perbedaan itu mengubah perannya: naga bisa menjadi lawan yang harus ditundukkan, tetapi juga sosok yang dihormati atau penjaga. [1]

Wujudnya memberi petunjuk, tetapi bukan seluruh cerita

Gambaran naga Barat sejak Puncak Abad Pertengahan mencakup sayap, tanduk, empat kaki, dan napas api. Sementara itu, naga dalam budaya timur biasanya tak bersayap, berkaki empat, dan berbentuk menyerupai ular. Kedua gambaran ini tidak sekadar berbeda rupa; keduanya hadir bersama pemaknaan yang berlainan dalam sumber: naga Barat cenderung menjadi tokoh antagonis, sedangkan naga Tiongkok dipandang bijaksana dan agung. [1]

Namun, pembagian itu bukan aturan bahwa semua naga di satu wilayah punya sifat yang sama. Tradisi India, misalnya, mengenal nāga sebagai ras makhluk gaib atau semi-gaib berwujud setengah manusia setengah ular. Nāga dapat digambarkan sebagai manusia dengan kepala dan leher ular, ular sepenuhnya—kadang berkepala lebih dari satu—atau perpaduan manusia dan ular. Mereka dikisahkan bermukim di Patala, dunia bawah tanah, dan terkadang dapat mengambil wujud manusia. [2]

Dari ancaman hingga penjaga

Dalam gambaran Barat yang dirangkum sumber, naga menjadi ancaman yang patut dihancurkan; membunuhnya dapat mengantarkan seseorang pada gelar pahlawan atau ksatria. Sebaliknya, naga dalam budaya Jawa dapat hadir sebagai lambang penjaga pada hiasan gamelan, pintu candi, dan gapura. Perbandingan ini memperlihatkan dua fungsi cerita yang berbeda: naga dapat menjadi bahaya yang harus dikalahkan, atau sosok yang menandai perlindungan. [1]

Kisah Basuki menambahkan peran lain. Dalam mitologi Hindu dan Buddha, Basuki adalah ular raksasa suci dan pemimpin para ular. Dalam kisah Samudramanthana, ia melilit Gunung Mandara yang digunakan para dewa dan asura untuk mengaduk Lautan Susu. Di sini, naga bukan sekadar lawan atau penjaga; ia menjadi bagian penting dari sebuah kisah kosmis. [3]

Dalam pewayangan Jawa, Basuki mendapat penafsiran yang berbeda: ia dikenal sebagai Batara Basuki, dewa keselamatan berwujud ular putih yang dapat berubah menjadi manusia. Kisah ini menunjukkan bagaimana sosok naga dapat disesuaikan dalam tradisi penceritaan setempat—dari ular suci dalam kisah Hindu dan Buddha menjadi figur yang dikaitkan dengan keselamatan dalam pewayangan. [3]

Mengapa naga ditakuti sekaligus dihormati?

Rasa takut dan hormat muncul dari hubungan yang berbeda antara naga dan manusia dalam cerita. Naga yang menjadi ancaman menghadirkan konflik yang perlu diatasi. Naga yang agung, suci, atau berperan menjaga justru menempati posisi yang layak dihormati. Perbedaan wujud ikut membantu membangun kesan, tetapi peran dalam kisahlah yang paling jelas membedakan maknanya: naga bukan satu tokoh dengan satu pesan, melainkan sosok yang berubah menurut tradisi dan cerita yang menampilkannya. [1][2][3]

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Naga. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30007414&title=Naga (diakses 2026-10-03).
  • [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Naga (mitologi India). https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29969276&title=Naga_%28mitologi_India%29 (diakses 2026-10-03).
  • [3] Wikipedia bahasa Indonesia — Basuki (mitologi). https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28587329&title=Basuki_%28mitologi%29 (diakses 2026-10-03).